![]() |
| Adha Nadjemuddin |
Kalau saya ditanya, siapa calon wakil gubernur Sulteng yang
cocok berdampingan dengan Ahmad M Ali. Jawabannya adalah Sigit Purnomo Said
atau Pasha.
Tapi sayang, saya bukan Ahmad Ali, sehingga mungkin saja
bukan Pasha yang diincar.
Banyak pertimbangan kenapa harus Pasha. Dari sisi publik
figur, Pasha adalah ikon. Magnet yang daya tariknya masih sangat kuat.
Bukan saja karena alasan agar dipilih rakyat, tetapi bisa
menjadi jalan baru untuk menggaet perhatian publik nasional terhadap Sulteng.
Pasha laku "dijual" untuk kepentingan Sulteng dari berbagai sisi.
Sulteng yang sejak dulu terus menjual berbagai potensinya,
seperti pariwisata, tetapi belum ada yg menjadi ikonnya. Pasha bukan saja idola
di Indonesia tapi laku di kawasan Asia bahkan Eropa. Kekuatan personal Pasha
sebagai artis, seniman, merupakan jembatan diplomasi paling strategis jika
diberi fungsi yang maksimal.
Jika rakyat menghendaki Ahmad Ali - Pasha berpasangan dan
terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur, maka Pasha pantas diberi job di
bidang pariwisata, pemuda, olahraga, seni dan kebudayaan. Itu talenta Pasha
yang alami dan sudah mendarah daging.
Ahmad Ali dan Pasha adalah dua-duanya "pemain" di
pentas nasional. Bisa saling mengisi dan melengkapi urusan lobi ke pemerintah
pusat dan sumber potensial lainnya di luar negeri. Patut dicatat bahwa Sulteng
masih sangat bergantung dgn pemerintah pusat pada hampir seluruh sektor.
Tokoh tokoh di level nasional biasanya cara pandangnya akan
lebih luas, lebih komprehensif, dalam melihat Sulteng dari berbagai sudut
pandang. Karena mereka sudah berdialektika dengan berbagai dimensi yang luas.
Mereka tidak lagi hidup dalam pola seperti katak dalam tempurung.
Dari aspek usia, keduanya adalah pemimpin muda. Energik
tentu saja gesit. Ini penting karena Sulteng ini luas. Butuh pemimpin muda yang
lincah, sehingga bergerak dan bertindak lebih cepat. Seperti secepat karir
Ahmad Ali dikancah perpolitikan nasional dan lincahnya Pasha bermain di atas
panggung pertunjukan.
Pasha selama menjadi wakil wali kota Palu sudah mengetahui
persis apa tugas dari seorang wakil kepala daerah. Meski tugas utamanya lebih
ke dalam urusan pemerintahan, tetapi bukan berarti tidak bisa diberi
peran-peran strategis lainnya dalam membangun Sulteng.
Satu periode menjadi wakil wali kota sudah lebih dari cukup
mengantarkan Pasha menjadi wakil kepala daerah yang matang. Pasha sdh paham apa
yang boleh dan tidak boleh ia kerjakan. Pasha adalah talenta wakil kepala
daerah yang solid dan bisa bermain di atas segala ritme politik.
Ahmad Ali sebagai entrepreneur sekaligus politisi dan Pasha
sebagai artis, seniman dan politisi merupakan dua sisi yang sepadan. Untuk
membangun Sulteng menggunakan dua pendekatan ini, yakni entrepreneurship dan
seni sangat relevan. Sudah saatnya alih kepemimpinan Sulteg dari birokrat
politisi ke entrepreneur dan seni.
Sulteng butuh pemimpin gaya baru agar resonansinya lebih
dahsyat seperti dahsyatnya ayunan politik Ahmad Ali dan Pasha dalam lima tahun
terakhir. Dan keduanya memang pantas untuk menjadi pemimpin Sulteng lima tahun
mendatang.***
sumber :
Akun facebook Adha Nadjemuddin
diunggah pada 23 Juli 2019 pukul 11 : 25 Wita
Akun facebook Adha Nadjemuddin
diunggah pada 23 Juli 2019 pukul 11 : 25 Wita

0 komentar