Gagasan Terusan Sulawesi, Dalam "Terkaman" Pendapat Wartawan Senior Sulteng

Gagasan Terusan Sulawesi,  Dalam "Terkaman" Pendapat Wartawan Senior Sulteng
Adha Nadjemuddin
Seberapa Urgen Terusan Sulawesi Kita Omongkan

Beberapa hari terakhir Terusan Sulawesi kembali ramai diomongkan di berbagai media. Wacana yang sudah menggelinding awal tahun 2008 itu kembali dikemukakan Anggota DPR RI Ahmad M Ali di sejumlah media. Ini kemudian digoreng sana-sini. Prokontra pun tidak bisa dibendung di tengah derasnya perbincangan pilkada gubernur.

Jika yang lain masih sibuk urusan pelantikan sana-sini, peresmian ini dan itu, Ahmad Ali sudah meloncat lebih jauh. Sudah mengomongkan masa depan Sulteng yang jauh dari zamannya. Wajar jika ada kontra dan pro.

Terusan Sulawesi adalah gagasan memotong leher huruf K pulau Sulawesi, dari Kasimbar di pantai timur dan Tambu di Donggala bagian utara. Kalau ini dipotong maka laut terhubung langsung antara Selat Makassar dengan Teluk Tomini.

Dulu ini diwacanakan untuk mendukung program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tujuannya agar terusan ini bisa menjadi jalur baru lalu lintas perdagangan dan jasa internasional yang menghubungkan barat dengan timur. Dengan jalan ini operasional lebih efisien dan efektif.
Ide ini memang luar biasa meski dengan berbagai risikonya. Tetapi seberapa urgen percakapan ini didiskusikan? Bagi saya ini belum perioritas, meski itu tetap penting setidaknya untuk 10 atau 15 tahun mendatang.

Saya menangkap munculnya kembali wacana ini karena kapasitas Ahmad Ali sebagai politisi. Sudah menjadi tugasnya memikirkan hal-hal yang bisa berdampak besar terhadap laju pembangunan di daerah.

Terusan Sulawesi itu hanyalah pemantik yang multiplier effect-nya dijamin sangat besar. Itu mungkin yang muncul di benak Ahmad Ali sehingga ia memandang wacana terusan Sulawesi perlu digelindingkan kembali seiring dengan rencana pindahnya ibukota negara ke Kalimantan. Itu sudah kerja-kerja politisi yang visioner.

Saya setuju terusan Sulawesi sebagai wacana, tetapi tidak bisa menjadi fokus utama karena itu hanya akan menguras banyak energi. Sudah lebih dari 10 tahun terusan Sulawesi ini diwacanakan. Bahkan sudah sampai ke Presiden SBY dan Bappenas waktu itu lewat mulut para gubernur se Sulawesi. Tapi mentok.

Terlalu banyak hal yang melingkupinya, tidak saja dari aspek anggaran, tetapi juga aspek geologi, lingkungan, sosial, budaya, keamanan bahkan politik. Sementara saat ini masih banyak hal-hal lain yang lebih penting dan urgen diomongkan.

Sebut saja bagaimana menggolkan Teluk Tomini, masuk dalam daftar agenda pembangunan nasional sehingga bisa menyedot APBN. Lingkar Teluk Tomini dan Teluk Tolo ini sangat potensial. Tetapi pembangunan dan pemanfaatannya belum maksimal. Padahal dua presiden, Megawati Soekarno Putri dan Jokowi sudah pernah datang ke teluk ini.

Bahkan mungkin lebih urgen, bagaimana kita mendiskusikan strategi penguatan sektor pertanian, pariwisata dan pertambangan dalam rangka menjemput pindahnya ibukota negara ke Kalimantan.
Dari dua wacana yang digelindingkan Ahmad Ali dalam sepekan terakhir. Kesiapan Sulteng menjemput berkah pemindahan ibukota negara itulah paling seksi. Ini lebih menjanjikan sehingga bisa merangsang nalar kita untuk mempersiapkan diri dari berbagai aspek.

Dari sektor pertambangan misalnya, jika selama ini Sulteng dikenal sebagai sumber utama material untuk membangun Kalimantan, kenapa kita tidak berpikir mempersiapkan diri membawa material ke Kalimantan dalam bentuk hasil olahan seperti kanstin. Bukankah nanti membangun ibukota negara itu butuh ribuan ton kanstin untuk trotoal, jalan, saluran, taman dan balok untuk membangun infrastruktur.

Bagaimana kita mempersiapkan industrinya, sehingga kita tidak sekadar membawa material dari gunung-gunung di Palu dan Donggala ke Kalimantan, tetapi material dalam bentuk produk. Kalau itu kita lakukan, maka kita selangkah lebih maju. Ini lebih strategis kita omongkan sehingga Sulteng nanti tidak menjadi penonton, tetapi berkontribusi utama dalam membangun ibukota negara yang baru.

Itu baru tahap persiapan konstruksi pembangunan infrastruktur. Belum lagi bagaimana nanti kita menyuplai pangan ke sana. Saya membayangkan, ibukota negara yang baru nantinya, sistemnya akan lebih ketat. Semua barang yang masuk dan keluar dari ibukota negara sudah berbasis teknologi.
Kita tidak bisa lagi menjadi penyuplai pangan dengan cara konvensional seperti di Pelabuhan Feri. Pakai gardus dan karung. Pakai buruh angkut. Tapi sudah harus modern, sehingga produk pangan kita dari pelabuhan langsung masuk ke pasar modern bahkan ke dapur istana Presiden.

Tidak hanya sampai di situ, tetapi bagaimana kita juga harus mempersiapkan diri menjadi destinasi wisata yang nyaman dan aman. Karena saya membayangkan, para eksekutif di ibukota negara itu akan mencari tempat yang nyaman dan aman untuk berekreasi di hari libur. Pilihan terdekatnya adalah Sulteng. Sudah siapkah kita?

copy paste dari akun facebook Adha Nadjemuddin


0 komentar