SAMA - Anggota
DPR RI Dapil Sulawesi Tengah menyebutkan bahwa konsep incorporate 100 Milyar
Satu Kabupaten berbasis kawasan manufaktur adalah menumbuhkan potensi
tiap-tiap kabupaten/kota untuk mewujudkan kemandirian Sulawesi Tengah.
Sehingga, daerah ini memiliki daya tahan secara ekonomi dari guncangan
eksternal karena mampu saling memenuhi kebutuhan antara daerah.
“Mimpi saya kelak, kita bangun kawasan pada setiap kabupaten
menurut potensi dan keunggulan masing-masing, kita berikan sepenuhnya dana
stimulus pada kabupaten/kota untuk mengelola dan Pemerintah Provinsi hanya
menjadi fasilitator dan dinamisator,” ujar bendahara umum DPP Partai NasDem
itu.
Untuk mewujudkan itu kata Ahmad Ali, maka sinergitas pemerintah pusat dan daerah di realisasikan dalam bentuk memberikan stimulus
pada Kabupaten/Kota untuk mengelola anggaran yang lebih dalam rangka mendorong
kemandirian berdasarkan karakter ekonomi masing-masing kabupaten/kota.
baca juga :
Oleh karena itu kata Ahmad Ali, kita butuh inovasi,
perbaikan produktivitas, menciptakan iklim kompetitif, bersifat inklusif dan
berorentasi tangguh bencana, dan yang paling penting harus dengan kerja keras
dan pembuktian. Menurut Ahmad M Ali, kalau kita sejenak kembali pada masa
lalu, setidaknya Sulawesi Tengah memiliki landmarch jalur perdagangan kolosal
yang sudah terintegrasi dengan pasar global. Berbagai komoditas global kata
dia, telah disumbangkan dari laut dan darat Sulawesi Tengah.
“Di masa lalu Sulawesi Tengah sudah melakukan hubungan
dagang dengan orang luar secara global, dan kita punya banyak kota-kota
pelabuhan yang jadi landmarch seperti Donggala, Wani, Tolitoli, Paleleh, Poso,
Kolonedale, Banggai Laut, dan sebagainya yang sudah amat menyejarah,”
jelasnya.
Ahmad Ali mengurai bahwa pendekatan aglomerasi yaitu
pemusatan pabrikasi, pekerja, komoditas dan logistik harus didukung pembangunan
sekolah-sekolah vocasional untuk menghasil tenaga kerja spesifik di
masing-masing daerah berbasis kawasan.
“Saat ini kita telah memiliki modal besar setidaknya, dua
kawasan yang dinisiasi private sektor berbasis logam dasar dan kimia di
Morowali dan Banggai, serta satu usulan pemerintah daerah berbasis perkebunan
pertanian dan hasil-hasil bumi,” urainya.
Tapi sayangnya kata Ahmad, insentif regulasi daerah belum
sepenuhnya mendukung, terutama inovasi birokrasi yang mampu beradaptasi.
Kedepan kita perlu mendorong kawasan manufaktur berbasis hilirisasi minyak dan
gas,” ujarnya.
Mengutip Laporan Bank Indonesia 2019, menyebutkan bahwa
ekspor besi baja mencapai USD 951, 90 juta atau tumbuh 19, 23 % sementara
ekspor biji nickel USD 25,62 juta sedangkan LNG dan gas amonia dikisaran USD
349,95 juta dan ekspor pertanian perikanan sekitar 52 persen.
“Angka-angka ini mengonfirmasi sebuah neraca produk domestik
yang sangat positif. Tapi sayangnya belum relevan dengan perbaikan
kesejahteraan masyarakat secara umum,” kata Ahmad.
Bagi Ahmad Ali, Sulawesi Tengah mengalami kenaikan jumlah
angkatan kerja dari tahun ke tahun. Hal itu mengindikasikan kebutuhan akan
peluang kerja. Sementara itu kata dia, gap atau ketimpangan antara daerah
dan kesejahteraan masyarakat hanya mungkin dapat diwujudkan bila kesempatan
kerja terbuka.
“Peluang kerja hanya bisa terbuka bila ada pertumbuhan
ekonomi dan pertumbuhan hanya bisa naik bila ada investasi, dan tanpa inovasi,
iklim yang kompetitif, mustahil hal itu bisa diwujudkan,” kata Ketua Fraksi
Partai NasDem DPR RI itu.
Dia berharap, sinergitas dengan pemerintah pusat terutama
agenda pembangunan infrastruktur dan energi dapat terbangun dalam kurun waktu
lima tahun ke depan untuk memastikan bahwa peluang untuk mencapai perubahan
mendasar dalam pembangunan Sulawesi Tengah bisa diwujudkan.(*)
source http://mediasulawesi.com/politik/ahmad-ali-bangun-sulteng-dengan-konsep-100-miliar-kabupaten%C2%A0

0 komentar